Sore hari, saya diajak seorang adik untuk menghadiri pertemuan antara mahasiswa sekolah kesehatan jogja dengan pengurus RT, RW, LSM setempat. Saya datang sebagai perwakilan organisasi kepemudaan disitu. Kebetulan salah satu program divisi saya akan mengadakan semacam acara pelayanan kesehatan untuk semua lapisan masyarakat, sehingga diharapkan remaja kami bisa bekerjasama dengan para mahasiswa tersebut.
Pertemuan tersebut membahas kemungkinan-kemungkinan daerah kami dijadikan sebagai desa binaan kampus teman-teman mahasiswa. Banyak hal yang kami bicarakan, dari mulai kondisi desa kami secara menyeluruh..
Di tengah-tengah pembicaraan, sempat muncul rasa keprihatinan yang luar biasa mengenai sisi-sisi yang ada di daerah yang tidak jauh dari rumah saya itu.
Kasus MBA yang tak sedikit,
Sanitasi yang sangat buruk,
Limbah yang dibuang seenaknya saja ke sungai,
Bayi yang tak jarang diberi makan mie,
Gaya hidup ibu-ibu yang gemar berutang piutang,
***
Sedih. Speechless. Bingung harus berekspresi seperti apa.
Kemana saja kami? Kami yang berpendidikan, kami yang masih muda, kami yang masih independen, kami yang… seharusnya mampu segera mengamalkan ilmu yang dimiliki?