(Source: sitaelanda)
Hari ini merupakan hari kedua terakhir UTS. Tidur yang “terlalu” berkualitas membuat saya dapat bangun sebelum ayam berkokok. Slide dosen saya buka kembali sambil komat-kamit menghafal prinsip dan perhitungan mengenai Stabilitas Obat. Jam dinding seakan tak malas untuk terus berjalan sembari diri ini menunaikan shalat, mandi, sarapan sambil ngobrol santai dengan kedua orangtua, sampai akhirnya bersiap menuju kampus. Jam 10 ujian dimulai dan saya berangkat jam 9, not gonna be late lah.. Santai. Usai cupika-cupiki plus sungkem dengan ortu, capcus! SupraX merah dengan setia menemani saya ngeluyur ke kampus biru tercinta.
Belum sampai di perempatan lampu merah monjali, stang motor terasa mulai tidak stabil. Hemm, pasti ini efek mengenang “luka” 3 tahun lalu yang sampai sekarang belum hilang. Tapi… Bukan. Ini beda. Rasanya bukan efek kecelakaan itu. Berhenti sejenak untuk mengecek, dan..
Aaaah! Ban depan bocor!!
Don’t panic, please.. Menenangkan diri.
OK, nglewatin lampu merah jelas ga berani. Nyebrang sama aja. Belok kiri deh, saya memutar jalan sambil kebingungan berpikir dimana bengkel terdekat. Tanya ibu-ibu penjaga warung, ternyata bengkelnya ada di sebelum tempat saya mengecek ban pertama kali tadi. Hedeh. Bocornya ban sudah cukup parah, kalau dituntun balik bakal kejauhan dan pakai acara menyebrang segala. Sementara kalau menyusuri jalan lurus ini, bengkel masih jauh. Ya sudahlah, ambil aman saja. Tuntun motor, tapi agak jauh.
Ohya, kenapa ga telfon Gaby aja? Gaby, Gabriella, adalah teman saya sekelas yang rumahnya tidak jauh dari situ. Dah berangkat belum ya itu anak.. OK, telfon Gaby..
Lhaaah.. Ga bawa HP!! Kok ya pas banget, apes amat sih -.-“
Astaghfirullah. OK, tenang. Jam masih menunjukkan pukul 9.08 WIB.
Yuk, mari kita tuntun lagi…. Sambil jengkel betapa cerobohnya diri saya. Sungguh tak termaafkan. Untung saja masih ada dompet, kalau ketinggalan juga? Jadi teringat satu kisah, di mana di suatu malam ada seorang perempuan yang nekat keluar rumah. Kala itu situasi sedang darurat sekali. Ada satu anggota keluarganya yang segera membutuhkan pertolongan. Tanpa jaket, tanpa helm, perempuan ini tak peduli langsung meluncur ke tempat yang diperintahkan ibunya. Namun apa daya, saat perjalanan pulang bensinnya habis di tengah jalan. Di tengah heningnya malam. There is no cell phone, no money. Anggaplah saya tidak mau menyebutkan identitas siapa perempuan itu.
Tak lama kemudian, tampak dari jauh nan samar-samar. Motor matic dan jaket yang rasanya saya kenal..
GABY!!!
Saya teriak sekencang-kencangnya.
“Aku baru mau telfon kamu. Tapi HPku ketinggalan.. Ban motorku bocor nih. Pas banget ketemu kamu. Untung aja, huhu…”
Heboh.
Singkat cerita, saya menebeng Gaby menuju kampus sementara SupraX saya titipkan untuk ditambalkan ke Mas-mas bengkel dan berjanji akan kembali secepat saya menyelesaikan ujian.
Sampai kampus jam menunjukkan pukul 9.30 WIB. Saya tidak telat, masih bisa ikut review belajar bersama teman-teman, dan masih bisa santai mengerjakan soal UTS.
***
Alhamdulillahirobbil’alamin.
PertolonganMu hari ini begitu terasa, Ya Allah.
***
Meja belajar, 26 April 2012. Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB.
Hamba-Mu yang tak pernah berhenti ceroboh.
Sore hari, saya diajak seorang adik untuk menghadiri pertemuan antara mahasiswa sekolah kesehatan jogja dengan pengurus RT, RW, LSM setempat. Saya datang sebagai perwakilan organisasi kepemudaan disitu. Kebetulan salah satu program divisi saya akan mengadakan semacam acara pelayanan kesehatan untuk semua lapisan masyarakat, sehingga diharapkan remaja kami bisa bekerjasama dengan para mahasiswa tersebut.
Pertemuan tersebut membahas kemungkinan-kemungkinan daerah kami dijadikan sebagai desa binaan kampus teman-teman mahasiswa. Banyak hal yang kami bicarakan, dari mulai kondisi desa kami secara menyeluruh..
Di tengah-tengah pembicaraan, sempat muncul rasa keprihatinan yang luar biasa mengenai sisi-sisi yang ada di daerah yang tidak jauh dari rumah saya itu.
Kasus MBA yang tak sedikit,
Sanitasi yang sangat buruk,
Limbah yang dibuang seenaknya saja ke sungai,
Bayi yang tak jarang diberi makan mie,
Gaya hidup ibu-ibu yang gemar berutang piutang,
***
Sedih. Speechless. Bingung harus berekspresi seperti apa.
Kemana saja kami? Kami yang berpendidikan, kami yang masih muda, kami yang masih independen, kami yang… seharusnya mampu segera mengamalkan ilmu yang dimiliki?